2013-05-20

Refleksi : RITUAL IKHLAS 5


Tuhan memang hanya satu, dan tak ada yang lebih baik dari Allah SWT. Kekuatan sehebat apapun yang dimiliki manusia, tidak akan mampu mengalahkan kehendak Tuhan. Sehebat apapun juga setan, setan tetap ciptaan Tuhan yang tentunya tidak dapat pula mengalahkan kehendak Tuhan. Sesunggunya manusia yang percaya akan kekuatan hitam dan membanggakan kekuatannya tersebut adalah manusia yang dikuasai setan dan hanya membawa keterpurukan bagi manusia tersebut. Jadi, jangan sekali-kali menyekutukan atau melawan kehendak yang Allah berikan kepada kita. 

Refleksi : RITUAL IKHLAS 4


Ikhlas memang hal yang sulit di lakukan. Tidak semua manusia dengan mudah mampu ikhlas dalam segala hal. Lidah bisa saja mengatakan ikhlas, namun hati berkata lain. Hal itu tentu memunculkan dosa lain, yaitu munafik. Dalam ritual ikhlas ke-4 ini, memunculkan tokoh yang melakukan kegiatan hanya sebagai wahana mengisi kekosongan waktu, memenuhi rasa penasaran seperti apa ritual ikhlas tersebut, dan hanya untuk di lihat orang lain atas eksistensinya. Karena landasan atau niatnya yang salah, maka apa yang ia perbuat dan yang ia katakan juga salah. Dia tidak melakukan kegiatan dengan ikhlas dan bahkan melanggar peraturan yang ada. Yang ia katakan juga menunjukan kesombongan duniawi yang tidak ada artinya di mata Allah SWT. Akibat dari niat yang salah tersebut, ia mendapat hasil yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ketidakberhasilan tersebut bukannya membuat ia sadar dan menerima dengan lapang dada, namun justru malah semakin berkoar-koar menunjukan ilmu dunia yang ia punya dan ia bangga-banggakan.

Refleksi : RITUAL IKHLAS 3


Tulisan di atas semakin mempertegas bahwa yang kita lakukan di dunia ini semata-mata hanya untuk mencari ridha Allah SWT. Keikhlasan membawa kita semakin dekat dengan ridha Allah. Apa pun yang telah kita peroleh di dunia ini tidak berarti kecuali keikhlasan dan ketaatan terhadap Allah. Perlu kita ketahui bekal kita untuk mencapai kebahagiaan yang sesungguhnya nanti bukanlah materi yang kita peroleh di dunia, melainkan amal ibadah dan keikhlasan kita dalam mencari ridha Allah SWT. Apapun pangkat kita di dunia, siapun kita di dunia, semua itu tidak berarti dimata Allah. Kita semua sama, yang membedakan hanya amal ibadah kita di dunia. 

Refleksi : RITUAL IKHLAS 2


Tujuan dari segala kegiatan yang dilakukan manusia sebenarnya hanyalah untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Untuk mencapai itu, manusia harus iklhas dalam menjalankannya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan juga harus benar sesuai firman-firman Allah. Di dalam dunia keagamaan, derajat manusia di dunia dimata Allah sama, yang membedakan hanyalah amal ibadah yang dilakukan dengan berlandaskan keikhlasan. Seperti halnya dalam dunia matematika. Tujuan dari berbagai kegiatan dan berbagai metode dalam pembelajaran adalah untuk memperoleh ilmu. Untuk memperoleh ilmu yang benar-benar mampu melekat pada memori siswa, perlu adanya keikhlasan dan kesungguhan untuk mempelajari maupun membimbing. Metode-metode yang dilakukan tentunya harus sesuai dengan materi dan kapasitas siswa. Semua siswa itu sama. Guru tidak bisa mengistimewakan salah satu atau beberapa siswa yang dinilai cerdas. Pada dasarnya semua siswa memiliki kemampuan yang sama, hanya saja guru harus mampu menggali kemampuan siswa yang belum terlihat yang membuat siswa terkesan kurang cerdas. Nah... di sini keikhlasan seorang pendidik dan peserta didik harus selalu di kembangkan. Artinya, dalam melakukan kegiatan pembelajaran baik guru maupun siswa harus ikhlas dalam memberikan bimbingan dan menerima bimbingan. Dengan keikhlasan maka kegiatan pembelajaran akan mencapai tujuan yang telah ditentukan atau disepakati dalam suatu instansi lembaga. 

Refleksi ;RITUAL IKHLAS 1

“IKHLAS”, satu kata yang sederhana namun memiliki makna yang luar biasa. Seberapa tinggi derajat kita, seberapa besar apa yg kita punya, seberapa kuat kemampuan yang kita miliki, seberapa jeniusnya kita, tanpa adanya keikhlasan itu tidak akan berarti apa-apa. Melakukan kegiatan apapun harus dilandasi dengan keikhlasan agar mendapat hasil yang memuaskan dan menyenangkan bagi pihak manapun. Sesederhana itu untuk dapat hidup dengan baik, namun hal itu sulit untuk dilakukan. Sebagai seorang pendidik tentunya kita harus terus ikhlas dalam mendidik. Tugas seorang pendidik juga tidak hanya menyampaikan materi dan tidak peduli apakah siswa tersebut mengerti atau tidak. Tidak demikian, seorang pendidik juga harus memperhatikan kebutuhan siswanya, permasalahan yang dihadapi siswanya, dan menganggap seolah-olah siswa tersebut adalah tanggung jawab penuhnya. Hal tersebut sebaiknya dilakukan dengan keikhlasan. Sebagai seorang calon pendidik juga perlu mempersiapkan segala sesuatunya dengan ikhlas termasuk dari segi spiritual. 

Refleksi : Elegi Bagaimana Matematikawan Mengusir Setan?


Matematika yang dirasa sulit seperti halnya setan yang terlihat menyeramkan, namun sebenarnya jika kita menggunakan logika kita maka matematika itu akan mudah kita pamahi dan pelajari. Semua benda yang ada di sekitar kita dapat kita jabarkan dengan cara matematika. Dengan matematika benda-benda tersebut dapat dijumlahkan, dikurangkan, dibagi dan dikali. Keempat cara itu merupakan pokok pengoperasian dalam matematika. Tidak hanya itu, benda-benda matematika juga dapat direfleksikan, dipangkatkan, diturunkan, dan masih banyak lagi. Benda tersebut juga dapat dihitung luas, volum dan kelilingnya, dihitung panjang dan jumlah sisi-sisinya. Matematika memiliki beberapa bilangan diantaranya bilangan rasional, bilangan irasional, bilangan berpangkat, bilangan bulat, bilangan positif-negatif, bilangan imaginer, dll. Cakupan matematika sangat luas dan ada di lingkungan sekitar kita. Jadi untuk memahami matematika kita harus benar-benar mampu menggunakan logika kita dengan baik. Sebagai seorang guru juga harus menggunakan matematika kongkrit yang ada disekitar anak didik agar mudah dimengerti dan dipahami. 

Refleksi : Video Pembelajaran Matematika SD kelas 4 di Jepang


Lagi-lagi Bapak Marsigit memberikan wawasan ilmu tentang sistem pembelajaran dari negara Jepang melalui video pembelajaran matematika SD kelas 4 di Jepang. Secara keseluruhan isi dalam video ini hampir sama dengan video yang pertama, yaitu menampilkan pembelajaran dengan cara diskusi kelompok dan dilanjutkan dengan presentasi. Sistem pembelajaran Matematika di Jepang memang sudah lebih maju dari Indonesia.
            Seperti biasa sebelum melakukan diskusi, guru melakukan apersepsi terlebih dahulu. Apersepsi dirasa penting agar siswa merasa siap dalam mempelajari materi yang akan diajarkan. Sistem pembelajaran dalam video ini juga menggunakan 2 guru atau team teaching. Namun sedikit berbeda dengan video pertama, guru yang satu lebih dominan sedangkan guru yang lainnya hanya mengawasi di belakang. Materi kali ini yaitu menghitung luas bagian yang diarsir pada bangun datar. Guru telah memberikan gambar segiempat sembarang yang terkemas dalam LKS. Siswa berdiskusi kelompok untuk membuat pola-pola bagian yang diarsisr dan mampu menentukan luas bagian tersebut. Dalam diskusi kelompok guru juga memberikan pengarahan. Hasil dari setiap kelompok pun berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Setelah diskusi selesai perwakilan dari kelompok tampil didepan untuk presentasi. Pembelajaran yang ada dalam tanyangan video ini saya rasa masih belum baik. Karena peran guru disini masih sangat dominan, siswa kurang aktif dalam berpendapat dan guru masih memberikan penjelasan yang mendetail. Berbeda dengan video pertama, guru hanya sebagai fasilisator saja.
Agar siswa terlatih untuk dapat berperan dalam pembelajaran maka sebaiknya guru tidak terlalu dominan dalam mengambil kesimpulan pembelajaran. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengambil kesimpulan secara bersama-sama dan guru sebagai pengarah. Dengan demikian siswa lebih mengerti hasil pembelajaran yang telah dilakukannya.